Oleh : Tohap P.Simamora/Ketua JRKI Sumut

Setiap tindakan manusia dapat dibedakan dalam dua dimensi, yakni estetik maupun etik. Keduanya, bersumber dari nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat.
Setiap orang mengadopsi nilai budaya melalui proses sosialisasi dan internalisasi. Dengan sosialisasi, internalisasi dan sumber nilai budaya melahirkan pola tindakan seseorang saat berada di masyarakat.

Kepercayaan yang terlalu besar terhadap kekuatan komunikasi untuk membentuk citra, biasanya membuat pelaku komunikasi mengutamakan propaganda dan mengabaikan realitas.
Padahal pelaku komunikasi (komunikator) tidak berada di ruang hampa, setiap khalayak sasaran mengacu kepada norma budaya. Untuk itu, pelaku komunikasi perlu membaca norma budaya masyarakat sasaran (komunikan), dan kemudian menempatkan citra yang akan dibentuk ke dalam platform budaya.

Informasi yang disebarkan tidak boleh bertentangan dengan norma budaya. Kalau ada perbedaan, perlu ada proses negosiasi sosial guna mencapai kesepahaman.
Penggunaan radio komunitas (rakom) sebagai media sosialisasi adalah salah satu program berbasis masyarakat. Dikatakan berbasis masyarakat karena mulai dari tahap perencanaan, persiapan sampai pelaksanaan dilakukan masyarakat, sehingga program ini mempunyai asas dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Jadi programnya merupakan milik masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan maupun mengatasi ragam masalah yang dihadapi masyarakat.

Keikutsertaan radio komunitas sebagai penyebar informasi dalam berbagai program pembangunan pada akhirnya akan terbangun transparansi dan akuntabilitas. Kita menyadari tidak semua lapisan masyarakat mendapatkan informasi jika hanya melalui forum musyawarah (tatap muka). Hanya tokoh masyarakat yang biasa di undang atau dilibatkan, sementara masyarakat marjinal (miskin) tidak mengetahui informasi pembangunan yang berkaitan dengan kebutuhan mereka.

Masyarakat Perlu Tahu
Hak atas informasi, Masyarakat yang berada di wilayah siar radio komunitas memiliki hak mendapatkan informasi. Untuk memenuhi kebutuhan informasi, pengelola Radio komunitas menjalin hubungan atau bekerjasama dengan berbagai pihak.

Berjuang Menjaga Ruang Publik
Media adalah ruang publik. Media tidak dapat dipisahkan dari hubungan antara ranah publik dan privat. Media menghubungkan dua wilayah untuk menciptakan atau menemukan kemungkinan (atau ketidakmungkinan) agar dapat bergerak menuju hidup bersama. Dalam pemahaman ini, apa yang disebut media terbentang cukup luas mulai dari arena fisik seperti pengadilan, alun-alun, teater, tempat-tempat pertemuan hingga televisi, surat kabar, radio, dan ruang-ruang interaksi sosial lainnya.

Media memainkan peran sentral di dalam perkembangan masyarakat. Karena itulah, media menjadi terkontestasi. Mengendalikan media telah menjadi semakin identik dengan mengendalikan publik dalam konteks wacana, kepentingan, bahkan selera (Curran, 1991).

Prinsip dasar media, secara fisik maupun non-fisik, telah bergeser dari sebuah medium/mediator di ranah publik yang memungkinkan keterlibatan kritis warganya.

Media dan akses informasi merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat. Karena Media menyediakan ruang dimana publik dapat bebas berinteraksi dan terlibat dalam hal-hal yang memiliki kaitan dengan publik.
Media adalah penciptaan ‘ranah publik’ yang tidak hanya mementingkan media saja, tapi mementingan keterlibatan publik dalam demokrasi.

Hal yang penting dalam mengaitkan publik dan privat adalah adanya jaringan untuk mengkomunikasikan informasi.

Dengan kekuatan yang dimiliki media, gagasan-gagasan pribadi pada akhirnya jadi opini publik dalam waktu yang cenderung singkat. Ini penting bukan saja untuk memahami bagaimana rasionalitas publik ‘direkayasa’.
Ketersediaan kanal atau media penting sebagai alat emansipasi untuk berpartisipasi dalam ranah publik, dimana seseorang dapat berinteraksi dengan masyarakat luas.
Namun pada realita yang sering ditemukan, penggunaan media sebagai alat penyampaian informasi ke kalangan bawah terlebih yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sering diabaikan. Padahal peranan media seperti radio komunitas, adalah tempat masyarakat kalangan bawah mulai berpendapat dan mencurahkan sekaligus menerima informasi terkait kebijakan pemerintah, perekonomian dan program-program lainnya sebagai sarana akses informasi yang tidak membutuhkan biaya besar karna cukup mendengarkan radio.

Peran Radio Komunitas

Rakom dapat melakukan sosialisasi kegiatan dalam bentuk Iklan Layanan Masyarakat (ILM), dialog interaktif antara Pelaku dan masyarakat, peliputan berita kegiatan dan pembuatan koran komunitas.
Pada umumnya masyarakat yang berada di wilayah siar Rakom memberikan respon yang sangat tinggi, ini ditunjukkan dengan tingginya partisipasi masyarakat saat perencanaan, saat pelaksanaan maupun dalam pengelolaan dan pemeliharaan kegiatan, begitu juga pengawasannya.
Misalnya dalam rapat perencanaan, semua masyarakat ikut ambil bagian, termasuk kaum perempuan. Hal itu tentu saja karena di radio komunitas kerap disiarkan informasi bahwa semua warga bisa ikut berpartisipasi memberikan masukan mengenai apa yang harus dilakukan di wilayahnya sehingga sesuai kebutuhan masyarakat.
Dalam proses perencanaan tidak hanya diikuti kaum laki-laki tetapi juga kaum perempuan.
Adapun bentuk partisipasi warga yang lain adalah berkontribusi dalam bentuk swadaya. Contoh pembuatan jalan desa dan gang. Ada warga memberikan tanahnya demi kegiatan pembuatan jalan.

Kesimpulan

Radio komunitas merupakan sebuah lembaga penyiaran yang berada di komunitasnya yang bertujuan menyebarluaskan informasi yang dibutuhkan masyarakat dan informasi pemerintahan yang perlu diketahui.
Peranan radio komunitas menyalurkan atau mentransfer informasi sangat penting sekali, apalagi saat ini masyarakat sudah mulai jenuh dengan berita-berita dan program siaran lainnya di televisi yang tidak ada ujung pangkalnya, seperti sinetron dan politik yang sangat membosankan.
Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, penggiat radio komunitas dapat bersinergi atau bekerjasama dengan berbagai pihak. Dengan cara mendatangkan pihak-pihak ke studio melakukan dialog sesuai topik/materi yang dibutuhkan komunitas. Dengan adanya dialog, warga akhirnya memahami persoalan yang terjadi sehingga dapat mengatasi masalahnya. Artinya, dari informasi berobah menjadi aksi.