Oleh : Tuti Haryati

Sejauh yang kita ketahui, Radio Komunitas memberi kemanfaatan yang besar terhadap penyiaran Indonesia. Keterlibatan Rakom memberi sinergi yang luar biasa positif terhadap keikutsertaannya dalam mensukseskan program Kementrian yang diusung untuk bersama-sama mensukseskannya.

Program Kementrian dalam Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak yang sedang digalakkan. Menjadi peran penting untuk Rakom. Sinergi ini memberikan angin segar untuk Rakom. Terhadap pemberitaan dan penyiaran yang selalu mengedepankan Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.

Oleh karenanya, semua permasalahan selalu kembali kepada kesetaraan Gender. Membicarakan keadilan dan kesetaraan lebih mempertimbangkan antara laki-laki dan perempuan, namun lebih kepada upaya atau relasi yang bisa di lakukan bersama. Lantas bagaimana cara melakukannya dalam mengimlplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa meninggalkan sebagai kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan.

Kesetaraan Gender Vs Emansipasi

Kesetaraan gender dengan emansipasi adalah 2 hal yang berbeda arti. Kesetaraan gender adalah persamaan kodrat atau persamaan gender dari wanita dan laki-laki. Jika kita lihat dari fisik, seorang wanita dan laki-laki jelas sangat berbeda. Secara psikologis menyebutkan adanya perbedaan antara wanita yang 90% menggunakan perasaan dan sisanya adalah logika dan sangat berbanding terbalik dengan laki-laki yang 90% menggunakan logika dan sisanya adalah perasaan.

BACA JUGA : Memberdayakan Masyarakat Melalui Radio Komunitas

JRKI : RUU Penyiaran Harus Demokratis

Kenyataannya masih banyak hambatan dalam pendekatan kesetaraan gender, kenapa? karena adanya peraturan perundang-undangan yang diskriminatif, perlindungan hukum yang dirasakan masih kurang, dan adanya budaya (adat istiadat) yang biasakan gender. Contoh ketidakadilan gender atau diskriminasi gender yaitu kurangnya pemahaman masyarakat akan akibat dari adanya sistem struktur sosial dimana salah satu jenis (laki-laki maupun perempuan) menjadi korban. Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi manusia.

Hal yang berkembang akhirnya berdampak pada Kekerasan anak berpengaruh terhadap kenyataan yang terjadi antara kesenjangan dari permasalahan orang tuanya. Ketidak pedulian terhadap perkembangan anak tidak memperhatikan dampak yang terjadi pada anak-anak kita. Dalam kata lain bagaimana perhatian kita terhadap kekerasan anak.

Berita-berita yang ada di medsos, iklan yang ada tentunya terpengaruh pada ekspos yang terjadi pada ikhlan-iklan yang ditampilkan. Contoh : menjualkan mobil yang iklan wanita dengan berpakaian minim dengan mobil yang di jual. Tampilan yang mensinergikan antara mobil dan perempuan itu apa maksudnya? kalau bukan karena pelecehan terhadap perempuan. Melihat kenyataan seperti ini sangat tidak disadari oleh sebagian orang, tidak terkeculi bagi pelaku sendiri.

Oleh karenanya usaha yang di lakukan olek KIE terhadap program prioritas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah :

Pertama, membentuk Jurnalis dengan memberikan pelatihan-pelatihan tentang kejurnalisan agar antara pemerintah dan Rakom bisa saling sinergi dalam bentuk penyiaran. Usaha yang dilakukan adalah wujud dari pemeberitaan sekitar perlindungan perempuan dan anak.

Kedua, jurnalis komunitas sebagai agen penyiaran terhadap penyegaran dan penyiapan materi-materi tentang pemeberitaan sekitar perlindungan perempuan dan anak.

Sejak 2005 kita pengirim TKI terbesar se Jawa Timur 13,6% (konon kuga se – Indonesia), 90,6% nya perempuan. Soal eksploitasi (trafficking) sudah pasti. Belum lagi meningkatnya angka perceraian, penelantaran anak dll. AKI dan AKB kita memang dibawah rata-rata nasional, tapi masih harus ditelaah untuk percapaian target MDGs. APK – APM siswa dan Drop Out masih bermasalah untuk anak perempuan. Kita daerah merah untuk kasus HIV/Aids, setelah pengasuh bergerak terbesar barikutnya ibu rumah tangga dan anak. (http://lp3a.umm.ac.id)

“Anak terpadu bersama masyarakat” maskot yang diusung oleh KIE pada program perlindungan perempuan dan anak. Hal ini di contohkan di Rusun Marunda yang akan di buat di Rumah susun, karena di Rusun sangat renta terhadap kekerasan perempuan dan anak, bahkan lebih luas lagi bagaimana mereka bisa meminimkan AIDS dan bagaimana penanganan ODHA dan mereka segera keluar dari keterpurukan.

Banyak faktor yang menyebabkan masih banyak perempuan dan anak mengalami permasalahan, antara lain karena faktor salah persepsi yang menganggap wajar apabila kekerasan dilakukan terhadap perempuan dan anak sebagai salah satu cara “mendidik” mereka. Ada pula disebabkan faktor budaya, karena kemiskinan dan faktor lain yang tidak memberikan perlindungan dan perlakuan khusus terhadap perempuan dan anak sehingga menimbulkan kekerasan, eksploitasi, diskriminasi dan perampasan hak-hak perdata perempuan dan anak. Demikian sambutan perwakilan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinno Ardiana. (Kem. PP dan PA, Senin, 13 Maret 2016)

Banyaknya permasalahan perempuan dan anak menyebabkan Kementerian PP dan PA merasa penting untuk membentuk Satuan Tugas Penanganan Masalah Perempuan dan Anak (Satgas PPA), baik di tingkat pusat maupun daerah. Keberadaan Satgas PPA untuk melakukan upaya preventif, kuratif.

Harapan ini bisa di maksimalkan oleh Rakom yang menjadikan sinergi yang bagus dan segera di wujudkan untuk memberikan mereka pelatihan-pelatihan agar kehidupannya tambah mandiri. Kesan Rakom diharapkan bisa selalu bekerjasama untuk selalu komit karena ada kesan yang mendalam dari, oleh dan untuk masyarakat. Serta diharapkan menjadi agen pencegahan terhadap perempuan dan anak.

Perwujudan ini bisa diwujudkan berupa kegiatan-kegiatan positif, seperti pelatihan jurnalis, pembuatan ILM, kegiatan reportase dan lain-lain. Perkembanganpelatihan ini sangat di butuhkan poin-poin yang menghasilkan kesetaraan gender yang memberi kemanfaatan . Termasuk adanya Rakom sebagai agent of change terhadap kekerasan anak dan perempuan.

Surabaya, 13 Maret 2017