Radar Tangguh

Manfaatkan Radio Komunitas untuk Pendidikan Mitigasi Merapi

559views

Bagi Sukiman Mochtar Pratomo, radio masih memiliki ciri khas tersendiri. Radio tak hanya menjadi sarana hiburan, melainkan menjadi pusat pendidikan. Lantaran hal itu, Sukiman meyakini radio tak bakal mati seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Termasuk radio yang hingga kini masih ia kelola di rumahnya sekaligus menjadi studio Radio Lintas Merapi, Dukuh Bangan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten. “Ke depan radio tetap menjadi pusat pendidikan mitigasi bencana. Dalam artian ketika kondisi Merapi aman, bentuk mitigasi itu mengarah pada ekonomi, pendidikan, hingga budaya,” kata Koordinator Radio Lintas Merapi tersebut saat berbincang dengan solopos.com, Rabu (6/2/2019).

Sukiman menceritakan Radio Lintas Merapi ia bangun bersama para sukarelawan pada 2002 silam. Fungsi utama radio itu menjadi pusat informasi masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana Gunung Merapi. “Saat itu tidak sembarang orang bisa memiliki HT [handy talkie]. Di Sidorejo belum ada ponsel dan tidak ada telepon. Informasi soal kondisi Merapi terkini sering terlambat dan hanya mengandalkan mulut ke mulut. Sementara, teknologi yang banyak dimiliki warga saat itu radio,” kata pria kelahiran 1 Januari 1970 itu.

Radio Lintas Merapi pun berdiri meski dengan peralatan seadanya. Sebelum 2006, menara pemancar menggunakan batang bambu. Saat itu, untuk mengisi hiburan dari siaran radio, penyiar mengandalkan kaset. Itu pun dari hasil pinjaman warga. “Jadi saat itu ada seksi pinjam kaset sana-sini. Pernah memutar kaset wayang itu belum selesai diputar sudah diambil tukang sound,” kenang Sukiman.

Seiiring perkembangan waktu, berbagai peralatan diperbarui. Tak hanya peralatan siaran, gamelan pun melengkapi ruangan radio menjadi sarana belajar tentang kesenian sekaligus mengisi acara radio. “Semuanya secara swadaya. Jadi iurannya kami tidak pakai uang tetapi di rumah punya alat apa dibawa ke radio,” tutur dia.

Selain peralatan, kapasitas para penyiar yang juga sukarelawan pun terus diasah. Mereka tak hanya fasih mengabarkan informasi tentang kesiapsiagaan bencana melalui frekuensi radio. Secara offair, para penyiar rutin melakukan pelatihan tentang kesiapsiagaan bencana.

Kisah tentang Radio Lintas Merapi yang memiliki misi mitigasi bencana itu pun menyebar. Tak hanya di wilayah Indonesia, kiprah radio juga didengar hingga warga mancanegara. Sukiman pun diundang ke sejumlah negara untuk bercerita tentang radio komunitas yang ia kembangkan bersama para sukarelawan di lereng Merapi. “Dari radio pula kami diundang menjadi narasumber ke Jenewa [Swiss], India, dan Jepang. Tidak hanya saya, kru radio lainnya juga berkesempatan bercerita di luar negeri,” kata dia.

Seiring perkembangannya, Radio Lintas Merapi pun kini menjadi pusat pendidikan ekonomi. Pengelola radio mengembangkan penanaman, pengolahan, hingga pendidikan tentang budi daya kopi. “Kopi baru keren dan tren. Makanya, kami mencoba membina mengelola kopi dan berbagai macam bahan olahan dari kopi. Dari kopi pulalah bisa menghidupi operasional radio,” tutur Sukiman.

Leave a Response